Oktober 05, 2009
Oktober 23, 2008
resensi
Judul : Sang Pemimpi, Penerbit : Bentang, Mizan, cet ke-10 : Sepetember 2007, Penulis : Andrea Hirata.
Bagaimana seandainya hidup ini kosong tanpa pengharapan dan mimpi? Mungkin hampir seluruh manusia di bumi ini memiliki karakter yang sama, yakni mudah putus asa, pesimis, dan malas berusaha. Namun syukurnya, Tuhan tidak menciptakan itu, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk merajut mimpi-mimpi dan merangkainya menjadi suatu kenyataan dengan usaha yang tak kenal lelah dan putus pengharapan. Mungkin begitulah yang hampir mengisi setengah dari isi novel tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul Sang Pemimpi. Tiga anak generasi muda yang hidup di Belitoeng, dengan karakternya yang berlawanan arah, Arai yang tak banyak cincong namun selalu melakukan sesuatu yang diluar nalar teman-temannya, telah memberikan banyak pengajaran tentang hidup, Ikal anak yang cerdas, namun suka terbawa arus merupakan seseorang yang sangat penyabar meski disekelilingnya banyak rintangan menghadang, dan Jimbron yang menderita Obsesif Kompulsif pada kuda namun memiliki jiwa penolong seluas samudera dan benar-benar berhati lembut seputih kapas.
Novel yang mengisahkan perjalanan hidup penulisnya ini memberikan nuansa yang berbeda pada karya-karya sastara abad ini yang notabene mengikuti tren pasar; hedonistik, pornografi, dan lainnya. Novel Sang Pemimpi memiliki daya magis tersendiri yang mampu melawan arus komoditi pasar. Membaca novel ini membuat kita ingin berbuat, berbuat sesuatu yang tidak berakhir hanya pada teori belaka, benar-benar meletupkan emosi dan membakar semangat orang-orang yang membacanya. Sudah patut jika novel ini dijamah panca indera masyarakat Indonesia.
Dengan bahasa yang tak biasa, Andrea Hirata berhasil membuat mata orang-orang terpaku pada novelnya, waktu habis hanya untuk membaca rangkaian bahasanya, dan tenaga bertambah karena semangat yang tiba-tiba terbakar untuk menyelesaikan kisah perjalanan hidupnya. Sastra yang bukan sembarang sastra, itulah tulisan Andrea Hirata, jalinan kata-kata yang dibuatnya terasa begitu memikat dan tak henti-hentinya membuat takjub. Ia menjadikan fisika, biologi, kimia, dan astronomi sebagai sastra. Tak heran jika beberapa sastrawan ternama memujinya sebagai salah satu sastrawan saintifik yang dapat menyentuh hati manusia sebab penyampaiannya yang begitu cerdas.
Mungkin jalan hidup Andrea Hirata banyak pula dilalui anak-anak generasi muda Indonesia lainnya, sedikit kenakalan, persahabatan yang sejati, cinta monyet, persaingan dalam menempati posisi juara di sekolah, hingga yang paling penting dari itu semua, yakni mewujudkan mimpi. Namun, hanya sedikit orang saja yang mampu menyampaikan kenangannya lewat kata-kata yang terangkum dalam buku. Hanya sedikit orang yang mampu menjadikan kehidupan masa kecilnya sebagai alat untuk memotivasi orang disekitarnya agar tidak jatuh dalam lubang keputusasaan, agar semua orang mampu merajut mimpinya dan mewujudkannya menjadi suatu kenyataan.
Andrea Hirata berhasil melakukannya, ia telah muncul menjadi seorang penulis yang langsung mencapai master piece-nya dalam mengurai kata-kata menjadi sebuah pengalaman yang indah bukan main. Seorang editor senior, Hernowo pun berkata “Dahsyat! Kata-kata Andrea berhasil ‘menyihir’ jiwaku. Dia dapat dikatakan memiliki kemampuan mengelola kata sehingga memesona yang membacanya.” Bahkan seorang Ahmad Tohari, penulis Ronggeng Dukuh Paruk pun memujinya, “ Untuk sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampaian cerdas dan sangat menyentuh. nama Andrea Hirata sudah bisa jadi jaminan.” Jadi, tunggu apa lagi, jadikan buku Sang Pemimpi sebagai bahan referensi di rumahmu dan jangan lupa untuk melengkapi keseluruhan tetralogi Laskar Pelangi ini karena kamu bisa mengambil banyak manfaat lebih daripada sekedar membakar semangatmu saja, kamu pun bisa menjadikan novel ini sebagai referensimu untuk menyusun skripsimu dan tentunya untuk penulis pemula, dengan membaca buku ini, kamu tidak akan kehabisan ide, selain itu kosa katamu akan bertambah banyak sehingga dalam menulis kau tidak terjebak untuk terus mengulang-ngulang kata yang sama. Tunggu apa lagi, buruan koleksi bukunya.
GIGIKU KUAT, MULUTKU SEHAT. Penulis: Martariwansyah, SKG. Penerbit : Salamadani, Bandung. Cetakan pertama : Maret 2008.
Apa jadinya, jika pada saat anda pergi ke kantor dan bertemu klien, tiba-tiba saat menyapa, si klien langsung menjaga jarak seraya menutup hidungnya dengan tangan atau mungkin saat anda duduk sendirian di sebuah resto elit tiba-tiba saja seorang lelaki atau perempuan menggoda anda dengan senyumnya dan ketika anda membalas senyumnya si penggoda mendadak beranjak dari tempatnya dan langsung pergi dengan mimik enek. Alasan untuk kasus pertama, bisa saja si klien sedang pilek jadi ia takut mengganggu anda saat anda melihat ingusnya meler, atau kemungkinan kedua, yakni anda mengalami masalah bau mulut (halitosis) hingga akhirnya si klien menjaga jarak, sedangkan untuk kasus yang kedua, kemungkinan yang pertama bisa saja si penggoda tiba-tiba teringat akan senyum pacarnya dan membuat ia sadar kalau sudah berselingkuh dan kemungkinan kedua, bisa saja gigi anda berwarna hitam dengan tepian gusi yang mengeluarkan darah. Jika alas an kedua yang anda alami baik bau mulut ataupun gigi yang kehitam-hitaman, sebaiknya anda mulai berbenah, gigi dan mulut yang tidak sehat akan menghancurkan hidup anda, baik dalam karir maupun hubungan percintaan anda. Lalu apa yang mesti dilakukan?
Sebuah buku tentang kesehatan berjudul Gigiku Kuat, Mulutku Sehat hadir untuk kita baca, dengan gaya bahasa yang to the point, penulisnya yang seorang dokter gigi mampu memberikan penjelasan yang mudah dicerna siapa saja. Dari isinya dapat dilihat kalau si penulis menyadari betul kalau hampir kebanyakan orang Indonesia kurang menyadari arti penting dari gigi dan mulut, padahal hampir setiap detik, menit dan jam kita sebagai manusia selalu menggunakan mulut dan aksesorisnya untuk menyambung hidup dan bersosialisasi di masyarakat.
Oleh karena itu, demi mendidik masyarakat untuk mencintai karunia Tuhan, maka penulis ini berinisiatif untuk menulis buku kesehatan ini, di mana di dalamnya tidak hanya berbicara mengenai jenis-jenis gigi dan penyakit apa saja yang menyerang mulut dan gigi, melainkan juga memberikan resep-resep sederhana yang murah meriah yang mana dapat mencegah beberapa gangguan mulut dan gigi.
Sebagai makhluk sosial sebetulnya sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjaga anugrah Tuhan yang satu ini, sebab tanpa mulut dan gigi kita pasti akan kesulitan menyampaikan pendapat, kita akan sulit memberikan pemahaman kepada orang lain, lihat saja contoh yang paling konkrit, seorang nenek yang giginya tinggal dua seperti lagu Burung Kakaktua, apakah mungkin ia bisa berbicara fasih sedangkan giginya tinggal dua? Tentu saja jawabannya tidak!
Jadi, sebelum anda menyesal, ada baiknya anda melakukan tindakan preventif dan tentunya bukan tindakan pencegahan yang asal-asalan, maka itu ada baiknya anda membaca buku ini agar anda bisa memahami kondisi gigi dan mulut yang baik serta hal-hal apa saja yang dapat mencegah gangguan mulut dan gigi untuk sementara waktu, jangan asal membeli berbagai obat dari merk terkenal, namun kita tak paham betul akan khasiatnya, itu justru akan merusak floral mulut dan menimbulkan berbagai penyakit gusi serta gigi.
Namun selengkap-lengkapnya buku ini, si penulis tetap menyarankan agar kita memeriksakan gigi dan mulut kita enam bulan sekali pada dokter gigi, sebab buku ini hanya memberikan pencegahan saja, bukan memberikan tata cara pengobatan yang bisa dipraktikan oleh orang awam. Tetapi dengan adanya buku ini, kurang lebih bisa membawa angin segar bagi masyarakat yang masih awam dengan masalah gigi dan mulut, setidak-tidaknya selama kita masih bisa mencegah kerusakan mulut dan gigi, kita tidak perlu mengeluarkan uang yang lumayan besar hanya untuk sekali periksa ke dokter gigi karena bagaimanapun, kondisi ekonomi yang sedang morat-marit berdampak pada seluruh lapisan bidang kerja, baik jasa maupun barang, dan salah satu di dalamnya adalah semakin mahalnya nilai kesehatan yang dapat dilihat dari melambungnya biaya administrasi dan pemeriksaan dokter di rumah sakit.
April 30, 2008
semua tentang buku (all about book)
By Walt Shiel
Don't judge a book by its cover, right? Wrong. Everyone does just that.
Think about it for a moment.
What's the first thing you see when cruising the shelves in a bookstore? The spine, which is part of the cover (most books are shelved spine-out). It had better be readable from six feet away and have a title that grabs you and pulls you in closer.
Next, a curious browser will take the book down and look at the front cover, giving it maybe 10 seconds to earn their interest with that title, an intriguing or explanatory subtitle, and dynamite graphics. If it fails, your potential reader will just put it back.
If the front cover succeeds, your would-be customer will turn it over and read the back cover, giving it maybe 20-30 seconds to convince him to open the book and see what's inside.
For a nonfiction book, only then will the customer take time to look at the table of contents and, if that interests them, flip through the book for photos, eye-catching headlines and sub-heads, and general layout, maybe pausing to read a paragraph here or there. Some people will take time to read the first paragraph or page, while others prefer to read the last page or paragraph (different strokes for different folks, you know).
So your book's cover better do three things within those critical first few seconds -- grab their attention, intrigue them, and give them a reason to look further.
Your book cover is, therefore, another key element in your book's success and one that should never be done on the cheap.
A good artist may or may not be a good cover designer. There's a lot more to creating a good, effective book cover than just good artwork. And be careful if you, or your designer, use stock photos or artwork, as the photo or art you choose might be found on other book covers as well. Do you really want to find your cover art on somebody else's book?
With virtually every book published on display on websites somewhere (Amazon.com, for one...but not the only one), you or your designer really need to consider how it will look when shrunk down to thumbnail size. Does it still have adequate impact? Will it still cause a potential customer to pause long enough to find out more?
Designing effective book covers is an art onto itself. Learn as much as you can about it, even if you hire a designer, and browse the bookstore and library shelves to see what others have done.
After all, your book almost certainly will be judged by its cover, at least initially.
Walt Shiel is the Managing Partner and Publishing Mentor at Five Rainbows Services for Authors & Publishers, a subsidiary of Slipdown Mountain Publications where he serves as Publisher. Besides offering a full range of affordable publishing solutions (including book cover design), Five Rainbows can tailor a mentoring program to help you achieve your specific goals for your book! And be sure to check out Walt's View From the Publishing Trenches blog.
Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Walt_Shiel
renungan
April 29, 2008
healthy life
Diabetes Mellitus (DM)
By Brenda Williams
If you are a health-conscious person, you would have come across the word diabetes mellitus or even heard of it a few times yourself. Thus, with that in mind, I will focus briefly on the aspect of classification and non-pharmacological therapy of DM.
Classification of Diabetes
Type 1 DM
Type 1 DM is known as insulin-dependent DM as patients have little or unable to synthesize insulin hormone. Hence the name, they will eventually be dependent on insulin injection for their survival. This type of DM is a result of the autoimmune destruction of ²-cells (which produces the insulin hormone) in the pancreas. It mostly occurs in adolescent and children. In general, they are less than 30 years old with a lean body habitus. However in some cases, it could also be found at any age group.
Type 2 DM
On the other hand, Type 2 DM is different from Type 1 in which it is characterized by insulin resistance where in the initial stage, it lacks of insulin secretion. In such a case, although the pancreas retains some ability to produce insulin but it is insufficient to convert the blood glucose to glucagon following the body's needs resulting in accumulation of blood glucose. Alternatively, the body cells can also become resistant towards the insulin produced by the ²-cells. As a result, blood glucose level is increased and led to hyperglycemia (high blood glucose level).
Most individuals with type 2 DM exhibit abdominal obesity which itself can cause insulin resistance. Furthermore, patient usually has co-existence of other medical disorders such as hypertension, dyslipidemia (high triglyceride levels and low HDL-cholesterol levels), and heart diseases. Clustering of abnormalities is normally referred as "insulin-resistance syndrome" which can also increase the risk of developing macrovascular complications (ischaemic heart disease, cerebrovascular disease and peripheral vascular disease).
Owing to its gradual development in the age of onset and average of more than 30 years old in most patients, Type 2 is also known as maturity-onset DM. This type of DM is highly genetic predisposition regardless to ethnicity.
Gestational DM
GDM is defined as glucose intolerance which is found during pregnancy. It has complicated about 7% of all pregnancies. It is important to have a early clinical detection in pregnant women whereby such therapy will help to reduce the perinatal morbidity and mortality risk.
Non-Pharmacologic Therapy
Regardless of the type of DM, patient should take initiative in preventing the complications of DM. Apart from prescribed medications by doctor; non-pharmacologic therapies should not be neglected as well.
Diet
This is one of the cornerstones in DM management. Success cannot be achieved without a proper diet therapy even though if you comply fully with your given medications. The followings are general recommendations:
1.Obtain counseling from a dietitian on individual nutrition based on your health conditions. This is aim to provide a balanced diet to achieve and maintain a healthy body weight.
2.Restrict intake of high sugar-containing foods such as cakes and ice-cream and other carbohydrates.
3.Reduction of intake of saturated fats in all diabetic patients as it can complicate their abnormal medical conditions.
Physical Activity
Most diabetic patients can benefit from increased physical activity such as walking, aerobic exercise, gardening and cycling. However, the type and intensity should be individualized. For example, an older patient should have a cardiovascular evaluation including a graded exercise test with imaging prior to beginning a moderate to intense exercise regimen.
It is advisable for those previously having a sedentary lifestyle patient to start exercise slowly. Preferably, a daily minimum of 3-5 times per weeks with at least 30 minutes each session. It is a good thing that physical activities are cumulative where three 10 minute sessions in a day is equivalent to a 30 minute session. This is most encouraging and you will no longer has any excuse to neglect the importance of physical activities.
If you have any doubt, consult with your doctor beforehand before initiating any non-pharmacologic therapy! Do not be take it upon yourself and put your health at risk!




